
"Karhutla di Kalimantan berdampak pada kualitas udara. Simak data PM2.5, tingkat pencemaran udara, dan risiko kabut asap bagi kesehatan."
Karhutla Kalimantan dan Ancaman Kualitas Udara
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan bukan hanya menyebabkan kerusakan ekosistem, tetapi juga menurunkan kualitas udara.
Berdasarkan laporan BPBD Kalimantan Timur yang dipublikasikan pada 9 Oktober 2026, total luas lahan terbakar yang tercatat mencapai sekitar 8.471,98 hektare, dengan 2.058 firespot secara akumulatif.
Asap hasil pembakaran mengandung partikel halus yang dapat terhirup oleh masyarakat. Untuk mengetahui seberapa buruk pencemaran udara tersebut, salah satu indikator yang perlu diperhatikan adalah PM2.5.
Apa Itu PM2.5?
PM2.5 adalah partikel polutan berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Ukurannya sangat halus sehingga dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Saat karhutla terjadi, pembakaran vegetasi dan lahan gambut dapat menghasilkan partikel ini dalam jumlah besar.
Karena itu, konsentrasi PM2.5 menjadi salah satu indikator penting untuk menilai kualitas udara saat karhutla, bukan hanya berdasarkan tebal atau tipisnya kabut asap.
Seberapa Buruk Angka PM2.5 di Kalimantan?
Data pemantauan BMKG Kalimantan Selatan pada 15 Oktober 2026 pukul 09.00 WITA mencatat konsentrasi PM2.5 sebesar 93,4 µg/m³ di Banjarbaru dan 74,4 µg/m³ di Kotabaru. Kedua angka tersebut masuk kategori Tidak Sehat berdasarkan informasi pemantauan BMKG. Data ini merupakan gambaran pada waktu dan lokasi tertentu, sehingga tidak mewakili seluruh wilayah Kalimantan.
Angka tersebut menunjukkan bahwa pencemaran udara perlu diperhatikan secara serius. Kondisi udara dapat berubah bergantung pada aktivitas kebakaran, arah angin, cuaca, dan lokasi pemantauan.
Apa Dampaknya bagi Kesehatan?
Paparan asap karhutla dapat menyebabkan iritasi mata dan tenggorokan, batuk, hingga memperburuk gangguan pernapasan. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit paru atau jantung termasuk kelompok yang lebih rentan.
Saat kualitas udara memburuk, masyarakat sebaiknya membatasi aktivitas di luar ruangan dan mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara.
Jangan Abaikan Angka PM2.5
Karhutla bukan sekadar persoalan hutan yang terbakar. Dampaknya juga berkaitan langsung dengan udara yang kita hirup. Dengan memantau PM2.5 dan kualitas udara saat karhutla di Kalimantan, masyarakat dapat lebih waspada dan mengambil langkah perlindungan yang tepat.